Wayang Kulit Rudi Gareng Lakon Dewa Ruci Dan Jo Klitik Jo Klutuk Meriahkan HUT YM Mak Co Klenteng Di Kediri



KEDIRI- JATIM, DAMARPANULUHNUSANTARA.COM -  Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kota Kediri kemarin malam mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalam rangka HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo ke-1059, sekaligus merayakan HUT Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Sabtu (27/4/2019)

Pagelaran wayang kulit tersebut dengan lakon “Dewa Ruci” oleh dalang kondang Rudi Gareng, yang diadakan dipelataran Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Turut hadir pula bintang tamu kondang Duo Jo Klituk dan Jo Klutuk, dan Lusi Rahman, dihadiri ratusan penonton warga Kediri dari berbagai daerah.

“Pertunjukan wayang ini kita adakan dalam rangka memperingati HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo ke-1059. Mak Co Tian Siang Sing Bo lahir pada tahun 960, kalau ditarik ke tahun 2019, ketemunya 1059. HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo kita adakan bersamaan dengan HUT klenteng, jadi satu acara dua tujuan,” tutur Prajitno selaku pengurus Klenteng.

Tema yang diangkat pada peringatan HUT YM Mak Co Tian Siang Sing Bo kali ini adalah “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”, dan seni wayang kulit sengaja dipilih sebagai upaya pelestarian budaya bangsa, sekaligus menyatukan antara budaya dengan kehidupan sosial masyarakat.

“Kita mengambil tema menjalin persatuan dan kesatuan. Ini kita ambil sebagai dasar kehidupan bermasyarakat di Kediri yang beraneka ragam, budaya, suku, agama. Kita mengadakan ini (wayang kulit) untuk melestarikan budaya, untuk menyatukan budaya dengan keanekaragaman masyarakat kita,” jelas Prajitno.

Inti sari lakon Dewa Ruci, dijelaskan Rudi Gareng, menceritakan perjalanan Bima mencari Tirta Pawitra atau Tirta Perwita Sari, guna mencapai kasampurnaning agesang  atau kesempurnaan hidup.

Cerita berawal dari tindakan Guru Drona atas bisikan Kurawa untuk melenyapkan Bima, dengan memberi mandat mencari Tirtha Pawitra. Pencarian Tirta Pawitra ini dilakukan sebagai sarana membuka kesejatian dan kebenaran kehidupan di hutan Tibrasara di Gunung Candramuka.

Menurutnya, Dewa Ruci adalah gambaran bagi manusia agar mempunyai rasa bakti, patuh dan setia kepada semua guru. Seorang yang tidak berbakti, patuh dan setia kepada guru tidak akan bersinar di masyarakat.

Diakhir cerita, Bima melihat sinar kesucian yang belum pernah dilihatnya di dunia fana, dan saat itu juga Bima mendapatkan wejangan-wejangan dari Dewa Ruci tentang ngelmu kasunyatan di mana manusia harus bisa menjalani mati sajroning urip  dan urip sajroning mati.


“Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekesedur angkara. Dengan landasan eling percaya minuhu, manusia akan dapat melakukan memaju hayuning bawana,” kata Rudi Gareng.

Dijelaskan Halim, salah satu pengurus sekaligus operator seni barongsai dan liang liong Tjoe Hwie Kiong, lakon Dewa Ruci tersebut berisi nilai-nilai yang sangat dekat dengan ajaran filosofi. Nilai-nilai edukatif yang terdapat didalamya diambilkan dari tokoh-tokohnya.

“Perbuatan yang dilakukan oleh tokoh wayang sangat baik untuk dijadikan teladan, panutan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai edukatif dengan sendirinya merupakan akumulasi cipta, rasa, karsa yang diimplemetasikan dalam sikap, tingkah laku kita,” pungkasnya.

Kegiatan tanggal 27 April atau nanti malam bakal digelar panggung gembira, dan hari minggu 28 April mendatang diadakan jalan sehat, berlokasi di Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri.(dpn)

Post a Comment

0 Comments